Kursus Forex
advert 2
advert 3

Beribadah Yoook !!!

Saling Sapa


ShoutMix chat widget



mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday37
mod_vvisit_counterYesterday158
mod_vvisit_counterThis week316
mod_vvisit_counterLast week871
mod_vvisit_counterThis month638
mod_vvisit_counterLast month3879
mod_vvisit_counterAll days47557

We have: 3 guests, 1 bots online
Your IP: 38.107.191.98
 , 
Today: Sep 06, 2010

Tentang Site

 

 

 

Rasa, Rumangsa, Ngrumangsani
Written by deya kusuma   

 

Sesanggemane wong urip iku, dudu bandha dudu rupa. Yang jadi pegangan manusia, bukanlah harta kekayaan dan kemashyuran. Demikian juga welas asihnya manusia, tidak pada bandha dan rupa.

Kalau kita kepingin untuk bisa diajeni diwelasi, harus bisa ‘rasa, rumangsa, ngrumangsani’.

Nandur pari.

Manusia, dalam prosesnya untuk mendapat welas asih dari Alloh swt, bisa diibaratkan dengan nandur pari, bertanam padi.

Ada tahapan dan proses yang harus dilalui. Dari nata galengan (mempersiapkan pematang), nyebar winih (menyemai bibit), ngluku (membajak), ngileni (mengairi).

Kemudian pada hari ke-21, atau ke-30, tergantung bibitnya, petani harus ndaut (menyiangi dan mengambil bibit), ngunthingi (membuat bibit dalam ikatan), menata, kemudian tandhur (menanam).

Nandur becik ketithik, ala ketara, bener ketenger.

Kalau menanam hal yang baik, akan panen pula hal yang baik.

Demikian dan menunggu hingga tandure nglilir. Tumbuh.

Hingga (pada jaman Sunan Kali), tercipta tembang lir-ilir.

“lir ilir, lir ilir, tandure wus sumilir,

tak ijo royo-royo, tak sengguh penganten anyar,

cah angon cah angon, enekna blimbing kuwi,

lunyu-lunyu penekna, kanggo mbasuh dodotira,

dodotira dodotira kumitir bedah ing pinggir,

dumana jlumatana kanggo seba mengko sore,

mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane,

do surako surak horee ..”

 

Tahapan berikutnya adalah dipupuk dan disemprot. Berharap bisa tumbuh ijo royo-royo. Tahapan dipupuk dan disemprot pun, tidak hanya dilakukan sekali.

Pupuk dalam ajaran Sunan Kali, punya arti agar manusia punya ‘rasa, rumangsa, ngrumangsani’. Kalau tidak bisa hadir 1 kali sepekan, usahakan sekali dalam 2 pekan. Kalau belum bisa juga, usahakan sekali dalam 4 pekan.

Hadir, bisa diartikan secara fisik, atau juga bisa anda terjemahkan sendiri arti dari ‘hadir’. Dalam padi, diibaratkan nyemprot dan memberi pupuk.

Kalau ternyata dalam 4 pekan hadir sekali belum juga bisa, yang artinya tidak pernah dipupuk dan disemprot, maka jangan berharap panen.

Yekti, tanduranmu tumpas dipangan keong lan sundhep. Yakin, padimu akan mati disikat hama. Habis ke akar-akarnya.

Dengan belum bisa rasa, rumangsa, ngrumangsani, maka harapan panen hanyalah bagaikan cebol nggayuh langit, kepingin tentrem ora gelem ngrumangsani, kepriye ibadahe. Bagai pungguk merindukan bulan, semuanya hanyalah menjadi angan-angan.

Apabila padi telah disemprot dan dipupuk, selanjutnya akan hamil dan beranak pinak. Akan menemukan buanyak kenikmatan yang tidak pernah diduga.

Bisa jadi menjadi gampang dalam mencari rejeki, keluarga selalu sehat, atau juga anak dan istri menjadi hamba Alloh yang soleh solehah, jauh dari marabahaya.

Selanjutnya, padi berbuah. Keluar bulirnya. Namun belum juga bisa dipanen.

Masih perlu adanya sikap dan sifat ‘waspada, sasmitha, dan waskita’.

Akan datang serangan hama tikus, burung, ataupun wereng, bisa menyerang bertubi-tubi. Dari segala penjuru. Namun jika dipupuk dan disemprot, Insya Alloh semuanya akan selamat. Dan berharap panen.

Setiap malam dijaga, siapa tahu ada tikus ataupun keong yang menyerang. Disorot dengan lampu senter (Jw. Disuluh). Suluh, ataupun suluk, dalam pewayangan Sunan Kali adalah suatu bagian cerita. Diharap nyuwun tutur neng Gusti supaya atine padhang. Minta petunjuk Alloh agar terang hatinya.

Sunan Kali ngendhika, kalau suluh itu lebih utama jika dilakukan sendirian. Ngenteni manungsa lana ing kaprayitnan. Menunggu manusia-manusia tidak lagi terjaga. Bukankah itu 1/3 malam terakhir ?

Tidak lagi begadang hanya untuk ‘ngetan bali ngulon, sedyane ora kelakon’ dan ‘grumbal-grumbul grubyak-grubyuk, entuke gebuk’

Bukankah nyuluh lebih bermanfaat ?

Hidup itu harus mengerti jatidiri. Suluh menunggu sepi. Lingsire wengi. Subhanallah.

Bisa diibaratkan, orang yang biasa tahajjut atau pun tasbih secara rutin setiap hari, dikala pagi dia tidak terbangun malamnya, maka dia akan merasa rugi. Menyesal bagaikan kehilangan gunung emas. Getun.

Ini. Ini yang namanya nandur panen. Memperlihatkan orang tersebut akan panen.

Sebaliknya, orang yang biasa saja ketika kehilangan malamnya, ibaratnya padi kena pegebluk. Apa yang menjadi keinginan, hanya bagaikan cebol nggayuh lintang. Bagai pungguk merindukan bulan. Hanya menjadi sekedar angan-angan saja.

Selanjutnya, jika malam telah disuluh, siang dijaga dengan hati-hati. Sedikit-demi sedikit padi mulai menguning, menguning, dan kemudian merunduk.

Selanjutnya kita mengundang tetangga tetangga kita untuk panen bersama.

Diawali dengan bangun sekitar jam 3 pagi, untuk sekedar memasak ala kadarnya.

Dan ketika jam 6 pagi, semua makanan telah siap di sawah. Dimakan bersama-sama, sebagai bentuk rasa syukur kepada Alloh. Sodaqoh, sodaqoh, dan sodaqoh.

Ya. Bersedekah, meskipun belum benar-benar panen.

Artinya, untuk sodaqoh, kita tidak harus menunggu kaya. Sodaqoh lah semampu kita yang ada.

Terbayang ketika makan bersama di sawah. Hanya nasi putih dipincuki daun jati, irisane tempe, gorangan kelapa. Ahhh… betapa nikmatnya.

Padahal disekitar tempat tersebut, ada banyak kotoran binatang, burung, atau lainnya. Namun, kenikmatan sodaqoh dan kebersamaan, mengalahkan segalanya.

Selanjutnya, pemilik sawah menanyakan ke tetangga, berapa nanti yang harus dibagi dengan pekerja yang membantunya. Kembali, kita disuguhkan ajaran yang dalam. Kita tidak boleh sombong. Tidak boleh semena-mena. Meskipun kita yang punya sawah. Namun kita tidak serta merta menentukan bagian pekerja. Namun kita tawarkan. Kita rembug. Rasa, Rumangsa, Ngrumangsani.

Aja dumeh. Itu kekayaan adalah kekayaan milik Alloh. Meski sawah dan padi tersebut tertulis atas nama kita. Namun kesemuanya adalah milik Alloh.

Aja dumeh. Jagan sombong. Karena kalau sombong, tidak lama Alloh akan menarik rejeki yang dilimpahkannya. Subhanallah.

Setelah selesai panen dan semua mendapat bagian. Tidak ada lagi rasa iri dan hasut, kecuali syetan.

Sombong itu penyakit. Jangan sombong ketika kaya, dan ketika miskin, jangan menjelek-jelekkan yang kaya, agar bisa menjadi kaya.

Gandrung donya iku marakke ati peteng, kanggone wong sugih utawa fakir.

Merga ora Rasa, Rumangsa, Ngrumangsani.

Kalau sudah kering padinya kemudian dimasukkan ke lumbung. Atine tentrem, merga ora mikir utang.

Mangan cukup, anak-anak pada wareg, turu, lampune lampu senthir, obat nyamuke babal kluwih, Nikmate ra karuwan.


Gelaran klasa kemul sarung,

Karo mbakar tela, marep ngulon, diiliri.

Mantrane duk pur duk pur, meduk mempur meduk mempur,

Yo iku who-wohane wong kang duwene rasa isin.

Inti :

1. Rasa, Rumangsa, Ngrumangsani

2. Duweni Rasa Isin

3. Waspada, Sasmitha, Waskita.

 

Demikian terjemahan bebas dari apa yang disampaikan Kyai Im.

Guru Besar Sholat Tasbih dan Sholawat Kubro.

Mohon masukan dan koreksi jika dirasa salah.

Versi asli bisa di download disini :

 

Comments (0)
 

Link Bisnis

 

 

 

 

 

 

 

Track Kunjungan

free counters