Kursus Forex
advert 2
advert 3

Beribadah Yoook !!!

Saling Sapa


ShoutMix chat widget



mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday45
mod_vvisit_counterYesterday158
mod_vvisit_counterThis week324
mod_vvisit_counterLast week871
mod_vvisit_counterThis month646
mod_vvisit_counterLast month3879
mod_vvisit_counterAll days47565

We have: 14 guests online
Your IP: 38.107.191.95
 , 
Today: Sep 06, 2010

Tentang Site

 

 

 

Benar salahnya hukum tergantung penguasa
Written by deya kusuma   

 

Anda pulang kerja. Dalam keadaan lapar di perjalanan, anda membayangkan enaknya makan. Dan sesampainya dirumah, langsung menuju meja makan, berharap segera makan, membuka tudung saji. Disitu anda dapati, seekor tikus sedang santai dan enaknya menikmati nasi. Anda sangat marah, dengan pentungan, segera saja pukul dan kejar tikus itu. Hingga akhirnya, dalam bingungnya, tikus itu tercebur dalam bak air. Lalu, apa yang akan anda lakukan ?

Jelas tikus itu sudah tidak berdaya. Ada 3 kemungkinan tindakan anda. Menghajar tikus itu hingga mati. Membiarkan tikus itu tersiksa dan mati dengan sendirinya. Atau menolong tikus itu kemudian melepasnya.

Prosentase terbesar tindakan yang diambil, kemungkinan adalah menghajar tikus itu sampai mati. Tikus itu salah, karena telah mencuri nasi. Tikus itu salah, maka harus dihukum.

Itu kalau menurut versi anda, versi penguasa. Tikus memang tidak berdaya menghadapi penguasa dalam keadaan terjepit seperti itu. Akan tetapi,

 

 

Mengapa sampai tikus itu mencuri ? Tidakkah anda berfikir bahwa tikus itu tidak akan mencuri kalau tidak karena lapar ? Pernahkah anda lihat tikus yang mencuri selagi dia kenyang ? Sepertinya, dimanapun hukum ditegakkan, lebih condong menuruti keinginan penguasa.

Topik panas saat ini adalah markus pajak dengan aktor utama Gayus. Gayus telah bernyanyi. Hukum telah berusaha ditegakkan. Setegak-tegaknya. Dan ternyata, kasusnya tidak sesederhana yang disangka. Kasus berkembang kemana-mana. Perusahaan besar juga terkena akibatnya. Segenap mata terbelalak, tak menyangka perusahaan milik salah satu orang berkuasa diindikasikan sebagai pengemplang pajak. Mata dan hati rakyat jelata seakan habis kepercayaannya. Akankah kasus ini diungkap apa adanya. Tidakkah orang berkuasa tadi akan bermain mata. Dengan kekuasaan uangnya membalikkan fakta, dari pihak yang salah berbalik menjadi mulia.

Sementara ini, rakyat jelata menjadi pembayar pajak yang setia. Sakit hatinya karena dikhianati kepercayaannya. Jelata masih punya asa. Tidak lagi ada yang main mata. Tapi, apakah mungkin.

Apakah mungkin kalau ternyata hampir semua penyelenggara negara bekerja bagai mafia namun tidak merasa. Jelata berfikir panjang. Kalau demikian adanya, tentunya akan terjadi kekacauan dalam penyelenggaraan negara. Dan akhirnya, jelata masih membuka hatinya. Jelata memberi kesempatan lagi, bagi penyelenggara, untuk melaksanakan tugasnya. Mereka tidak akan kena pidana, namun harus bekerja dengan lebih baik lagi. Mau memperbaiki diri. Dan, kesempatan ini hanya sekali lagi. Kalau tidak, jelata bahkan mungkin semakin emosi, dan mewacanakan revolusi.

Bagi penyelenggara negara, penegak hukum, ataupun aparat pajak, ayolah bekerja lebih baik lagi. Perbaiki diri, jangan lagi berfikir dan mencari celah untuk korupsi. Bukankah anda manusia Indonesia terpilih untuk memperbaiki negeri ini. Remunerasi juga mestinya cukup untuk menopang hidup. Jangan lagi turuti nafsu memperkaya diri. Bukankah nanti tak dibawa mati.

Akhirnya, ayo perbaiki diri. Karena sebenarnya, kita dalam hidup ini tidak ada-apanya dimata Illahi. ‘Urip iki ora ana apa-apa’.

Comments (2)
 

Link Bisnis

 

 

 

 

 

 

 

Track Kunjungan

free counters