|
Sesanggemane wong urip iku, dudu bandha dudu rupa. Yang jadi pegangan manusia, bukanlah harta kekayaan dan kemashyuran. Demikian juga welas asihnya manusia, tidak pada bandha dan rupa.
Kalau kita kepingin untuk bisa diajeni diwelasi, harus bisa ‘rasa, rumangsa, ngrumangsani’.
Nandur pari.
Manusia, dalam prosesnya untuk mendapat welas asih dari Alloh swt, bisa diibaratkan dengan nandur pari, bertanam padi.
Ada tahapan dan proses yang harus dilalui. Dari nata galengan (mempersiapkan pematang), nyebar winih (menyemai bibit), ngluku (membajak), ngileni (mengairi).
Kemudian pada hari ke-21, atau ke-30, tergantung bibitnya, petani harus ndaut (menyiangi dan mengambil bibit), ngunthingi (membuat bibit dalam ikatan), menata, kemudian tandhur (menanam).
Nandur becik ketithik, ala ketara, bener ketenger.
Kalau menanam hal yang baik, akan panen pula hal yang baik.
Demikian dan menunggu hingga tandure nglilir. Tumbuh.
Hingga (pada jaman Sunan Kali), tercipta tembang lir-ilir.
“lir ilir, lir ilir, tandure wus sumilir,
tak ijo royo-royo, tak sengguh penganten anyar,
cah angon cah angon, enekna blimbing kuwi,
lunyu-lunyu penekna, kanggo mbasuh dodotira,
dodotira dodotira kumitir bedah ing pinggir,
dumana jlumatana kanggo seba mengko sore,
mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane,
do surako surak horee ..”
|